oleh

R(uang) Demokrasi.

Seorang kawan mengatakan uang dan janji² tidak akan pernah bisa dihilangkan dari ruang demokrasi. Sampai kapanpun, sampai kiamat sekalipun. politik uang tidak akan pernah berakhir, katanya penuh keyakinan.

Saya masih berusaha untuk tidak mengiyakan keyakinan ini. Meski terlihat jelas, dalam seminggu terakhir ini, banyak beredar baliho calon Kades yang menjanjikan doorprize mewah untuk pemilih. Mulai dari mobil, motor, Umroh, sepeda, alat rumah tangga hingga hewan ternak disediakan oleh cakades jika menang.

Bahkan, sebuah editorial media online lokal menuliskan judul Dahsyatnya Politik Uang Di Pilkades, yang menyebut nilai 1 juta rupiah untuk satu pemilih. Artinya, jika diambil setengahnya saja, dalam hitungan kasar diduga, Rabu besuk, 19 Pebruari 2019, akan beredar uang sekitar 300an Milyar di 223 desa di seluruh Bojonegoro. Memang benar, dahsyat sekali.

Sebagai saksi sejarah reformasi, yang bermimpi terwujudnya demokrasi yang sesungguhnya, tentu prihatin dengan kondisi ini. 𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩, kita memang masih berada dalam tahap ini. Sisa-sisa peradaban lama masih melingkar kuat menancap dialam bawah sadar kita. Politik uang dan identitas masih menjadi penyedap demokrasi.
Sementara, biarlah rakyat bersuka cita dan menikmati pesta di era demokrasi reformasi. Reformasi baru berjalan 20 tahunan. Masih butuh waktu.

Tetapi, saya masih yakin, para kontestan Rabu depan, punya cita2 luhur untuk membangun desanya. Dan uang hanya menjadi jalan untuk meriahnya.

Untuk para milenial, yang lahir setelah era reformasi, yang hari ini sudah mempunyai hak memilih dan dipilih, jangan jadikan uang sebagai kuasa sepenuhnya. Kalaupun dapat amplop, habiskan saja untuk beli bakso agar perputaran ekonomi warga berjalan lebih dari biasanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *