oleh

Oligarki Kekuasaan dan Korup

-Opini-101 views

Selama satu bulan, ia hanya konsen pada tiga orang narapidana saja.

Markum Jaya Siregar, salah satu mahasiswa Bimbingan Konseling Islam yang sedang melalui salah satu tahapan sebelum ia menyandang predikat sarjana sosial.

Pada PPL ini ia kebingungan saat di dalam lembaga pemasyarakatan. Hal yang membuatnya bingung adalah kebanyakan dari penghuni lepas ini mereka yang pernah melakukan tindakan kriminal dengan kadar kecil hingga besar. Tetapi Markum bingung pula dengan keadaan hukum yang lucu di negeri ini.

Contoh ada tindak pidana korupsi yang berhasil di ungkap oleh KPK, padahal dana yang di korupsi mencapai nominal ratusan juta sedang dana yang digunakan untuk mengungkap kasus TIPIKOR tersebut mencapai nominal miliar rupiah.

Walau uang yang di korupsi ini nantinya di kembalikan tapi juga tak sebanding dengan biaya yang dibutuhkan.

Baca Juga :  Pendidikan Karakter di Masa Covid 19

Dari hal tersebut Markum menemukan hal yang cukup membuat pikirannya terombang-ambing dalam perasaan kalut yang berkelanjutan.

Selama satu bulan, tiga narapidana yang ia temui sudah berhasil ia peroleh data-data yang di butuhkannya. Ia mempelajari kasus yang menjerat ke tiga napi tersebut hingga berhasil menarik benang merah, konklusi bahwa darurat korupsi di Indonesia telah mencapai ambang batas cukup tinggi.

Pertama orang yang ia temui ialah pendukung seorang koruptor. Sebut saja Wagiman, ia membantu jalannya korupsi yang dilakukan pimpinannya saat pengerjaan proyek perbaikan jalan poros kecamatan dengan nominal uang yang di korupsinya mencapai 600 jutaan.

Wagiman membantu memanipulasi data hingga penggelembungan biaya sampai bukti autentik tak ubahnya ia manipulasi. Tapi lucunya dalam hal ini, Wagiman tak mendapat sepeser pun dari uang korupsinya. Ia ikhlas membantu pimpinannya korupsi karena ia diberi janji akan di jadikan besan.

Baca Juga :  Kereta Kehidupan

Perjodohan antara putri Wagiman dengan putra atasannya. Namun sebelum semuanya terjadi, Wagiman harus merasakan berebut nafas di dalam lapas.

Orang yang kedua yang berhasil di temui Markum siregar ialah Wagiran. Ia bukan koruptor, ia juga bukan pencuri apalagi pedofil. Ia adalah orang yang menentang keras pada korupsi yang terjadi di perusahaan tempatnya bekerja.

Wagiran memusuhi orang-orang yang korupsi hingga keberaniannya menjadi bumerang, ia dipenjarakan oleh mereka yang takut rahasianya terbongkar dan terpaksa membuat skenario tuduhan yang mereka lemparkan pada Wagiran. Naas nasib Wagiran, hukum tak berdaya di meja sang penguasa.

Ketiga ialah dia orang yang korupsi. Sang koruptor yang menggasak uang rakyat, aset negara yang dicurinya. Sebut saja dia Katiban. Ia yang menyetir segala kendali korupsi yang dilakukannya. Proyek pembuatan bendungan Karang Timun. Katiban menggasak uang hingga mencapai nominal 400 juta lebih sekian yang ia lakukan dengan beberapa rekannya.

Baca Juga :  Siaga 9.651 Relawan Desa Lawan Covid-19 di Bojonegoro !

Jika ditelisik, Katiban memang lebih sewajarnya ada di lembaga pemasyarakatan ini dibanding dengan Wagiran namun apakah semua yang terjadi pada negri ini ya seperti kisah ini?

Ketika ada yang mencoba mengusik tidur nyenyak sang penguasa, jangan harap bisa lari untuk beberapa langkah. Begitupun dengan para penguasa yang bertingkah konyol dengan membuang selaput sutra pelindungnya di celah antara dua paha. (*)

Penulis: M. Abid Amrullah, Mahasiswa STAI ATTANWIR Bojonegoro, Kader PMII ATTANWIR Bojonegoro.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *