oleh

Kereta Kehidupan

-Opini-132 views

Dalam sebuah perjalanan kita tidak pernah mengetahui bagaimana hikmah itu datang kepada kita. Begitu yang aku rasakan ketika aku menaiki kereta di Jumat Malam menuju Jakarta. Kereta yang aku naiki bernama Kertajaya. Tidak ada yang istimewa di kereta itu malah sebaliknya.

Kursi selalu penuh dan penumpang berdesak-desakan. Barang bawaan yang dibawa tidak main-main sampai-sampai aku pernah berada di gerbong yang di bawah kursinya terdapat tongkat bambu yang panjang di bawah oleh sekelompok remaja yang telah menyelesaikan kegiatan jambore.

Aku terheran, gila kereta ini membawa banyak sekali orang dengan berbagai wajah dan kepentingan. Ada yang menaiki kereta ini untuk menghampiri anaknya yang sedang melahirkan. Dia telah bersiap-siap untuk menjadi kakek dan menyambut cucunya dengan penuh kehangatan.

Baca Juga :  Refleksi Pergerakan, Manuver PMII 60 tahun Mengudara

Ada yang menaiki kereta ini untuk menghampiri pasangan hidupnya. Tampak muka yang kelelahan namun aku yakin di hatinya ada rindu yang sedang menggebu ingin cepat rasanya menyambut sang kekasih. Ada yang menaiki kereta ini untuk kembali, ya sekian lama merantau ia harus kembali karena ia tahu ada orang yang memintanya untuk kembali karena jarak hanya memberikan nestapa bagi orang itu.

Baca Juga :  Siaga 9.651 Relawan Desa Lawan Covid-19 di Bojonegoro !

Ada yang menaiki kereta ini untuk memulai kehidupan karena ia tahu ada masa depan di tempat yang dituju walaupun dirinya harus berjibaku. Dari sini, aku melihat 2 hal yaitu perjuangan dan pengharapan. Perjuangan bahwa hidup memang harus diperjuangkan walaupun membutuhkan pengorbanan.

Perjuangan bukanlah terhadap hasil namun terhadap proses. Mereka yang berjuang tahu bahwa hasil akhir tidak ada yang tahu namun menyerah bukanlah pilihan karena hanya menghasilkan pecundang.

Di satu sisi ada pengharapan, mereka yang berharap tahu bahwa hari esok akan lebih baik, mereka yakin bahwa selama kita mensyukuri apa yang diberikan, tuhan akan menambah nikmatnya. Pengharapan memberikan keyakinan bahwa terus berjalan adalah opsi yang terbaik dan berhenti bukanlah jawaban.

Baca Juga :  Hakim Sebagai Guardian of Ethics

Di kereta ini aku belajar tentang empati bahwa manusia adalah makhluk hidup yang tak akan pernah berhenti untuk berjuang dan berharap. Mereka akan terus berjuang dan berharap untuk sesuatu yang mereka anggap berharga. Tak peduli jarak dan berapa lama mereka harus berjuang dan berharap, mereka tidak pernah berhenti seperti kereta yang terus melaju tanpa takut tanpa ragu. (*)

Penulis : Catur Alfath Satriya, Calon Hakim (Cakim) Pengadilan Negeri Bojonegoro.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Today