oleh

Menjaga Kesehatan Mental di Saat Pandemi Covid-19

-Opini-166 views

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang stress, ide tulisan ini hanya didasari dari beberapa viral-nya tagline #DiRumahAja. Saya berusaha membagikan pengalaman saya ketika di karantina selama 14 hari di rumah setelah pulang dari kota Semarang dan sedikit menambahkan beberapa pengetahuan yang saya baca saat berada dalam masa karantina.

Informasi tentang Covid-19 beberapa saat ini telah menjadi konsumsi kita tak terlebih dalam perbincangan kita dengan orang terdekat kita, informasi berupa daring (dalam jaringan) pun seperti tak mau kalah hampir setiap saat, semua sosial media kita seakan telah menambahkan teman baru bernama akun korona dan informasi yang diberikan pun menjadi top trending di semua sosial media kita. Hal tersebut memang menjadi wajar setelah protokol pencegahan Covid-19 diterbitkan oleh pemerintah pusat.

Saya kira cukuplah kita mempersoalkan latarbelakang tulisan ini. Selanjutnya saya akan berbagi sedikit tentang beberapa tulisan saya yang sempat saya baca saat saya di karantina, fokusnya emang pada stress dan kesehatan mental (mental health) jadi kalau anda memang tidak merasa akan stress dengan wabah Covid-19 ini saya sarankan pertahanan hal tersebut. Sedangkan orang yang merasa stress dengan Covid-19 semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anda.

Apa itu stress? Pertanyaan ini hampir pasti muncul di semua paragraf awal artikel yang membahas tentang stress. Sehingga sengaja dalam tulisan saya memberikan prolog yang tidak begitu penting agar terkesan anti mainstream. Singkatnya, stres adalah perasaan yang berada di bawah tekanan abnormal, baik dari peningkatan beban kerja, perdebatan dengan anggota keluarga, atau kekhawatiran keuangan sehingga berakibat panik, kebingungan mental, disosiasi, imsomnia berat, kecurigaan, dan tidak dapat mengelola aktivitas diri.

Gangguan stress tersebut akan mempengaruhi kita secara langsung dalam hal fisik dan emosional. Memang beberapa penelitian menujukkan hasil gangguan stress dapat berdampak positif bagi yang mengalaminya misal seseorang tersebut akan bersikap lebih waspada dalam situasi tertentu. Namun efek positif tersebut ditemukan pada sesorang yang mengalami gangguan stress yang besifat sebentar, maksudnya dapat keluar dari keadaan stress-nya. Sedangkan stres yang berlebihan atau berkepanjangan akan menyebabkan penyakit seperti halnya jantung, kesehatan mental, kecemasan bahkan depresi.

Selama situasi yang membuat anda merasa terancam, kesal maka tubuh akan menciptakan respons stres. Akibat dari respon tersebut akan menyebabkan gejala fisik, mengubah cara anda dalam bersikap dan akan mengalami emosi yang lebih kuat (Schneiderman, et.al., 2005). Orang yang mengalami gangguan stres akan mengalami reaksi yang berbeda, beberapa diantaranya yang sering dialami berupa tidak bisa tidur dengan nyenyak, berkeringat dan bahkan berubahnya nafsu makan. Akibat reaksi yang timbul anda akan mengalami rasa sakit kepala, sendi-sendi dan otot akan merasa tegang, mual dan gangguan pencernaan bahkan memungkinkan anda akan bernafas lebih cepat dan jantung berdebar.

Baca Juga :  DKC Garda Bangsa Bojonegoro dan Sahabat Umar Bagikan Ribuan Masker hingga Vitamin

Kita coba tarik benang merahnya dari paragraf diatas. Dimulai pada penyebab stres salah satunya adalah perasaan tertekan yang berada dibawah abnormal kita. Kita tahu bahwa wabah Covid-19 adalah salah satu penyakit yang sangat berbahaya penyebarannya pun sangat cepat dan sampai saat ini belum ada vaksin untuk pencegahan virus tersebut sehingga ketika orang terkena yang terkena virus tersebut akan kita asumsikan akibat virus ini akan mengakibatkan kematian yang terkadang asumsi seperti itu pun terbangun tidak sadar dalam kognisi kita.

Ketakutan akan sebuah kematian adalah hal yang wajar seperti hanya apa yang disampaikan oleh Victor Frankl dalam bukunya Man’s Search for Meaning (1963) bahwa kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya.

Tetapi hal tersebut akan menjadi tidak wajar ketika anda secara berlebihan ketakutan atas hal tersebut kalau dalam bahasa psikologi atau mungkin konseling anda akan disebut sebagai individu yang bermasalah. Melanjutkan benang merah yang sempat terputus akibat penjelasan tentang individu yang bermasalah.

Selanjutnya kita sambung dengan individu yang bermasalah karena tidak dapat mengelola perasaan takut yang tidak wajar maka anda akan merasa panik dengan adanya Covid-19, kecurigaan kepada setiap orang yang menunjukkan gejala-gejala Covid-19, dan tidak dapat mengelola aktivitas diri yang dikarenakan polarisasi perubahan aktivitas yang dulunya konvensional yang sementara ini menjadi daring (dalam jaringan) atau millennial lebih familiar dengan istilah WFH (Work From Home). Semoga sampai saat tulisan ini saya publish anda tidak mengalami perasaan seperti yang saya tulis diatas.

Ketika sudah sampai tulisan ini ada masih merasa bingung dengan keadaan yang anda alami dalam hal ini mengalami stress atau tidak dan anda berharap dapat dengan mudah dapat mengetahui keadaan mental anda dengan sederhana. Maka pada paragraf ini saya akan membagikan tips-tips bagaimana anda dapat mengidentifikasi keadaan kesehatan mental anda dari stress.

Baca Juga :  Siaga 9.651 Relawan Desa Lawan Covid-19 di Bojonegoro !

Forum Anxiety UK (2016) menyebutkan Ada 15 tanda/gejala yang dapat anda amati ketika anda ingin mengetahui keadaan mental anda yang sedang sehat atau sedang terkena gangguan stres. Ke 15 tanda tersebut adalah: 1) Perasaan khawatir atau cemas yang konstan; 2) Merasa kewalahan; 3) kesulitan berkonsentrasi; 4) Berubahnya suasana hati; 5) Mudah marah; 6) Kesulitan untuk bersantai/tidak bisa menjadi kaum rebahan yang kaffah; 7) Depresi; 8) tingkat kepercayaan diri merendah; 9) makan berlebih/kurang dari biasanya; 10) perubahan kebiasaan tidur; 11) penggunaan obat-obatan untuk bersantai; 12) Nyeri dan otot seperti tegang; 13) Diare dan sembelit; 14) Perasaan mual atau pusing; 15) Hilangnya gairah seks. Jika anda mengalami gejala ini untuk periode waktu yang lama, dan merasa gejala-gejala tersebut mempengaruhi kehidupan anda sehari-hari atau membuat anda merasa tidak sehat, Anda harus berbicara dengan orang yang anda percayai dapat membantu anda dalam menangani perasaan stres anda yang diakibatkan dari ketukan yang berlebihan atas Covid-19. Anda juga dapat meminta layanan informasi tentang Covid-19 yang tersedia.

Cara menjaga kesehatan mental dengan mudah

Agar ke-15 gejala stres yang sudah disebutkan diatas tidak dapat menghampiri kita maka kita perlu tahu bagaimana cara menjaga kesehatan mental kita. Ada beberapa cara untuk menjaga kesehatan mental kita diantaranya adalah:

Makan makanan yang sehat. Cornah D. (2006) perasaan yang well being dapat dijaga atau dipertahankan dengan tetap mengonsumsi nutrisi yang yang memadai untuk otak kita, seperti halnya rutin mengkonsumsi secara rutin vitamin dan juga tetap mengkonsumsi air mineral. Maka dari itu di tengah wabah Covid-19 ini kita harus tetap menjaga asupan gizi makanan yang akan kita konsumsi, terlebih lagi pada kebersihannya. Saya menyarankan jika anda memiliki lahan atau pekarangan rumah manfaatkanlah untuk menanam sayuran-sayuran yang bisa dikonsumsi selain perihal kebersihannya pertimbangan ekonomisnya pun perlu kalian pertimbangkan. Ingat kita di himbau pemerintah untuk WFH sampai bulan Mei akhir, jadi kalau kalian mulai menanam saat ini 1-2 ke depan mungkin tanaman kalian sudah bisa dipanen.

Rutin berolahraga. Latihan fisik sangat efektif dalam menghilangkan stres. Keluar untuk mendapatkan udara segar juga sangat membantu (Penedo & Dahn, 2005). Olahraga tersebut juga sangat relevan dengan dalil islam alaqlus salim fi jismis salim yang artinya padatubuh yang sehat juga terdapat jiwa sehat, maka anjuran untuk berolahraga sangat dianjurkan oleh agama islam.

Baca Juga :  Masuk Mapolres Bojonegoro Wajib Pakai Masker

Meluangkan waktu. Meluangkan waktu untuk bersantai, dalam mempunyai keseimbangan antara tanggung jawab terhadap orang lain dan tanggung jawab diri sendiri. Dalam artian tetap harus bisa mengatur waktu yang tepat kapan harus beristirahat dan kapan harus bekerja.

Be mindful. Meditasi mindfulness bisa jadi berlatih di mana saja kapan saja. Penelitian telah menyarankan bahwa hal itu dapat mengurangi efeknya stres, kecemasan dan masalah terkait lainnya seperti insomnia, konsentrasi dan mood rendah, pada beberapa orang.

Melakukan tidur yang nyenyak. Masalah tidur adalah umum ketika anda menderita stres. Cobalah untuk memastikan Anda cukup istirahat. Ketika anda mencukupi kebutuhan harian tidur anda maka tak akan ada rasa kantuk ataupun lelah pada diri kita karena sudah tercukupi kebutuhan kita.

Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Menjaga optimistik perpekstif kita terhadap apa yang telah terjadi. Seperti hanya ketika kita mendapatkan kemalangan pada hari ini maka kita harus menyakini bahwa bukan diri kita saja yang mengalami kemalangan tapi orang lain juga, sehingga pandangannya akan berubah semua orang mengalami kemalangan sehingga kemalangan adalah suatu hal yang universal didapatkan oleh setiap orang.

Semoga tulisan ini memberikan manfaat. Tetap patuhi protokol pencegahan Covid-19 yang telah disampaikan oleh pemerintah, lakukan social distancing/physical distancing, gunakan masker ketika keluar rumah, cuci tangan setiap akan dan selesai menyentuh benda-benda yang berada di fasilitas umum dan tetap jaga kebersihan. Dan yang tidak kalah penting tetap berdoa kepada tuhan agar wabah Covid-19 ini cepat berlalu dan kehidupan berjalan normal kembali. (*)

Rujukan:
Anxiety UK. “Stress.” Available at: https://www.anxietyuk.org.uk/our-services/get-help/ [Accessed on 22/11/16]
Corey, Gerald. (2016). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy (10th edition). California: Brooks/Cole
Cornah D. (2006). “Feeding Minds: The impact of food on mental health”. Mental Health Foundation. Available at: https://www.mentalhealth.org.uk/publications/feeding-minds [Accessed on 22/11/16].
Schneiderman, N., Ironson, G. & Siegel, S.D. (2005). Stress and Health: Psychological, Behavioural, and Biological Determinants. Annu Rev Clin Psychol., 1, 607-628.

Penulis : Ahmad Budianto, S.Kom.I Alumni STAI ATTANWIR 2015

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Today