oleh

Refleksi Pergerakan, Manuver PMII 60 tahun Mengudara

SEIRING berjalannya waktu, kian banyak pula konflik dan problematika yang menghadang. Namun semua hanya akan menjadi bumbu-bumbu kisah sejarah kelak yang akan kita ceritakan pada anak cucu.

Bicara PMII, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia pada tahun 1960 dengan tahun 2020 pasti sangat banyak motif-motif upaya developmental yang dilakukan. Inovasi kreatifitas semakin teruji seiring tuntutan zaman. Era mahasiswa bergondrong ria hingga masuk babak pemuda berpomade.

Tentu para pengurus baik rayon, komisariat, cabang hingga PB harus berjibaku menyibak zaman modern dengan neraca anatara kanan dan kiri, antara larut dalam negatif modernitas atau positifnya. Tantangan yang cukup besar ini pasti dirasakan semua pengurus, pertanyaannya yang tak perlu kita jawab ialah bertubi-tubinya konflik atau polemik namun masih tetap setia dan komitmen memperjuangkan cita-cita luhur PMII.

Makanya tidak kaget ketika saat ini kita jumpai sebuah kepengurusan macet sampai mampet dibilang hidup tapi nafas tinggal nyangkut ditenggorokan. Masalahnya memang cukup kompleks namun kedewasaan berorganisasilah yang mendominasi kekalutan intern kepengurusan.

Dari ketua tak sadar ketua, pengurus tak melek jadi orang yang mengurus sampai alumni yang gagal menempatkan posisi duduknya sebagai alumni kian menambah kecarutmarutan organisasi. Namun bukan kader PMII jika tidak mampu menerobos semua itu. Celah kecil mampu dimanfaatkan untuk terus bisa eksis, bernafaskan kaderisasi khususnya dalam ruang lingkup ujung tombak kaderisasi di kampus.

Baca Juga :  Oligarki Kekuasaan dan Korup

Organisasi adalah sebuah wadah dan tempat perundingan yang terdiri atas orang-orang yang didukung sepenuhnya, memiliki komitmen, terkendali, dan terpimpin untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan menggunakan sumber daya yang ada.

‘walau PMII banyak konflik, namun PMII tetap menarik’ celoteh ini memang nyentil namun ada benarnya juga. Pergulatan dalam kepengurusan pasti dan pasti terjadi namun anehnya itu semua malah menjadi pupuk penyubur pertumbuhan PMII.

Manuver gerakan PMII nyatanya menyala-nyala hampir di tiap kampus. Ribuan mahasiswa baru tiap tahunnya bergabung dengan PMII dalam MAPABA. Para kadernya yang produktif dan bercorak kultur keilmuan menunjang kiprah PMII sebagai organisasi yang kritis dan moderat.

250 cabang, 1.313 Pengurus Rayon dan 634 Pengurus Komisariat ini bukan nominal yang kecil. Kuantitas yang cukup besar tiap tahunnya selalu diimbangi dengan jebolan-jebolan PMII yang duduk dalam berbagai lini. politikus memang masih mendominasi para alumni yang memang telah tertempa sejak berproses mulai dari rayon.

Bagi pengurus yang masih menatap layar proyektor kelas tentunya juga berpandai-pandai dalam merebut pos-pos strategis dalam kampus, optimalisasi pengkaderan ini bukan serta merta karena kekuasan yang ada dalam genggaman PMII namun lebih pada hingga detik ini PMII masih menjadi garda terdepan organisasi kemahasiswaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai ahlussunnah wal jama’ah.

Baca Juga :  Pendidikan Karakter di Masa Covid 19

Terbukti dalam buah muktamar NU ke 33 di Jombang ditetapkan kembalinya PMII ke tubuh NU. Walau konklusi sikap yang di ambil PMII kembali atau tidak PMII tetap berlandaskan ahlussunnah wal jama’ah dan independensi masih bernilai cukup tinggi.

Menyisir dari lingkup kampus, dipungkiri atau tidak PMII selalu melakukan pengembangan-pengembangan kepada para kadernya yang pula nantinya kembali dalam menunjang intelektualitas mahasiswa dalam kelas. Dominansi mahasiswa PMII dan Non PMII cukup mudah dipilah karena lingkungan dan garis kontur PMII jelas dan terarah. Dan upaya-upaya pembunuhan PMII di kampus oleh orang-orang yang merasa tertandingi selalu nihil karena memang tak semudah itu menggulingkannya.

Bukan berarti perkataan presiden pertama RI Bung Karno tentang kutu buku itu tak lebih baik ketimbang dialketika kopi dan rokok. ‘ PMII memgambil kedua sisi tersebut karena memang Aku lebih senang pemuda yang merokok dan minum kopi sambil diskusi tentang bangsa ini, daripada pemuda kutu buku yang memikirkan diri sendiri’ dua hal tersebut bagai sayap yang tak mungkin terpisah. Membaca dan berdiskusi, menjadi sarapan para kader PMII tiap harinya. Namun karena kader PMII terbiasa sadar bahwa organisasi adalah sekelompok kaum yang saling mereduksi egosentrismenya maka kepentingan-kepentingan individual demikian kiranya telah terlempar jauh.

Baca Juga :  Renegosiasi Pengelolaan PI : Ikhtiar Daerah Berkelit Dari Kutukan Sumber Daya Alam

Dari baca buku diskusi sampai menulis, memanglah semua menjadi pola yang harus sesuai ritme alurnya. Mulai dari belanja bahan mengolah bahan sampai menyajikan telah terpatri dalam tujuan mulia. Makanya tidak aneh jika banyak para pemangku kekuasan geram dengan daya kritis para kader PMII. Ya memang semua berjalan seperti perkataan Bung Pram dalam bagaimana mendidik rakyat dengan organisasi dan mendidik penguasa dengan perlawanan. Dan tentunya tidak ada yang kebetulan terjadi.

Maka tak hayal jika nahkoda pertama PMII sering melempar misil bernada lelucon yang mengandung dentuman hebat. Seperti sabdanya tentang perlawanan ‘Pemerintah mana saja tidak suka penduduknya cerewet seperti sekandang burung parkit’ pastinya kita sadar tidak akan ada asap tanpa ada api. Begitupula tidak akan ada perlawanan jika tidak demikian.

Maka PMII hadir bukan untuk menjadi pngeruh keadaan. Diusianya ke 60 tahun ini, PMII telah terbukti memberikan sumbangsihnya yang cukup signifikan dalam mempersiapkan pejuang bangsa masa depan yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah. Khidmat PMII untuk negeri, berdiri tegak berteriak tak akan henti. (*)

Penulis : M Abid Amrullah, Mahasiswa dan Kader PMII ATTANWIR Bojonegoro

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Today