Berani ‘Merdeka Belajar’

- Reporter

Minggu, 30 Agustus 2020 - 12:35

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

bojonegorotoday.com – Pandemi Covid-19 telah menjadi krisis global yang kian mencemaskan. Beragam konsekuensi muncul dalam berbagai aspek kehidupan yang mengharuskan individu, organisasi, bahkan pemimpin negara harus mengambil langkah-langkah akurat untuk mengatasinya. Bukan hal mudah untuk bertahan, Indonesia dan negara lain di dunia perlu bergandengan menghadapi wabah ini yang entah kapan akan berakhir.

Salah satu aspek paling terdampak adalah pendidikan. Anak-anak tak dapat lagi belajar tatap muka di sekolah. Pembelajaran dilakukan dengan jarak jauh serta memanfaatkan teknologi dan informasi. Satu hal yang patut kita maknai, bahwa situasi ini semakin menyadarkan kita bahwa belajar cukup mensyaratkan ‘kemauan’, tak perlu memakai seragam dan sepatu, tak harus dengan buku-buku tebal, tak melulu soal nilai ulangan dan rapot. Semua pihak yang bersinggungan dengan dunia pendidikan harus menyadari dan mengakui hal ini bukan?

Tantangan yang dihadapi bangsa ini dari dulu pada aspek pendidikan yakni tentang kebijakan-kebijakan, kurikulum, sumber daya manusia, dibarengi dengan kemajuan teknologi. Semuanya harus mampu berjalan selaras dan seimbang. Namun faktanya, kurikulum yang terus berubah-ubah seiring bergantinya masa jabatan para pemangku kebijakan, kualitas guru yang minim inovasi ditambah beban tuntutan administrasi yang berbelit-belit, serta kemajuan teknologi yang belum merata menjadikannya sulit untuk menjadi satu harmoni dan satu tujuan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal ini serta merta menjadikan Indonesia tertinggal bahkan berada di bawah rata-rata skor 78 negara. Sesuai hasil Programme for International Student Assessment (PISA) di tahun 2018 yang telah diumumkan The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) khususnya pada tiga bidang utama, yaitu literasi, matematika, dan juga sains. Indonesia menempati posisi ke-70 dengan skor 396 dari skor rerata kemampuan sains negara-negara OECD yang mecapai 489.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyampaikan bahwa penurunan signifikan skor PISA ini tidak dapat dikesampingkan. “Tidak perlu dikemas agar menjadi berita yang positif. Tidak perlu. Kita harus punya paradigma baru di mana semua pemimpin mulai dari kementerian sampai kepala sekolah, kalau ada sesuatu yang buruk, kita harus jujur dan langsung meng-addres dan bergerak,” tegas Nadiem di Gedung Kemendikbud Jakarta. Mendikbud Nadiem menambahkan justru di sini letak kunci kesuksesan belajar, yakni untuk mendapatkan sebanyak mungkin perspektif untuk kemudian bergerak melakukan perubahan (Kompas, 07/12/2019).

Baca Juga :  Mengoptimalkan Fungsi Tarbiyah Masjid

Kembali mengingat situasi pandemi ini, patut kita syukuri karena ia sangat berjasa membawa perubahan, dengan kata ekstrimnya ‘memaksa’ memutasikan pembelajaran di Indonesia menjadi pembelajaran online. Hal ini semakin membuka mata kita bahwa anak-anak bisa belajar dari manapun dan kapanpun dengan kekayaan sumber belajar di sekitarnya. Peluang yang amat besar di momentum yang tepat ini harus dipatoki dengan kebijakan yang kuat demi kemajuan pesat pendidikan di Indonesia.

Alih-alih menjadi berhasil, anak-anak bakal bosan dan malas untuk melakukan aktivitas belajar online jika tak ada pendampingan dan pengawasan tepat, baik dari orang tua maupun guru. Anak-anak akan cenderung menghabiskan waktunya bukan untuk belajar, melainkan mengikuti kesenangannya untuk bermain game online, menonton konten hiburan yang tengah viral, tik-tok an, dll. Jika hal ini terus dibiarkan, maka karakter penerus bangsa ini yang menjadi taruhan.

Kondisi anak zaman ‘now’ kebanyakan sudah menggunakan gawai bahkan lebih canggih dari orang tua. WHO telah mengeluarkan Clasification of Disease yang menyebutkan kecanduan main game sebagai gangguan kesehatan jiwa. Maka dari itu, Kemendikbud mengeluarkan Kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter. Program ini perlu didukung sepenuhnya dengan upaya-upaya positif, demi mengalihkan aktivitas anak terhadap gawai. Perlu pembiasaan positif yang mengarah pada pendidikan karakter yang dapat ditugaskan oleh guru, meski semuanya hanya dapat terpantau secara daring.

Baca Juga :  Omnibus law di Indonesia: Mungkin atau Tidak ?

Memang kita tidak sepenuhnya bisa mengandalkan pembelajaran online, khususnya pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Terdapat dua pendalaman yakni tentang materi pedagogik dan pendalaman teori belajar dimana keduanya harus tetap berjalan. Butuh kehadiran guru disana sebagai figur pencontohan dan pembiasaan sikap. Betapa pentingnya peran guru sebagai pembentuk karakter anak yang unggul dan maju sebagai pelengkap tugas yang tidak bisa diperankan orang tua saja. Guru harus profesional agar menjadi pusat inovasi dan inspirasi bagi anak. Tugas beratnya adalah bagaimana peran guru ini tetap dapat ter-delivered meski tanpa hadir langsung di tengah-tengah anak, akibat dari physical distancing.

Solusi konkrit yang berdampak langsung dan berani membawa perubahan sangat dibutuhkan. Solusi pertama yang mesti dicoba, pemerintah perlu menetapkan regulasi dan sistem pendidikan yang mendukung kebebasan berinovasi dan berkompetisi dari seluruh sivitas akademika Indonesia. Gelora ini perlu dimulai kembali setelah sempat vakum akibat pandemi. Banyak ruang-ruang yang bisa dibuka kembali, tentunya bukan ruang kelas namun ruang untuk berkarya dan berkompetisi. Contohnya, dengan Penilaian Akhir Semester (PAS) yang bukan lagi hanya tentang soal ujian, namun praktek tugas konkrit atau proyek kebaikan di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Selain itu, sistem Satuan Kredit Semester (SKS) seperti di Perguruan Tinggi patut diterapkan menyeluruh di jenjang Sekolah Menengah. Namun, pemerintah tetap dalam kendali mengatur fleksibilitas tersebut. Sehingga ada keseragaman lembaga-lembaga pendidikan dalam berinovasi agar tetap sesuai jalur yang benar.

Solusi kedua, peran serta guru menjadi faktor utama. Guru harus memprioritaskan kompetensi dasar yang esensial dan dapat diterapkan langsung di kegiatan keseharian. Hal ini senada dengan apa yang tertuang dalam Keputusan Mendikbud Republik Indonesia Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Pembelajaran dengan penugasan yang berbasis aktivitas, praktek yang terukur, dan terstandar harapannya mampu menjadi formula efektif. Anak diajak untuk memecahkan masalah di lingkungannya masing-masing. Guru harus berani berinovasi membebaskan anak belajar serta tetap mengedepankan budaya Indonesia yang ramah dan santun.

Baca Juga :  Ada Bai Ping Ting di Belakang Jenderal Chu Bei Jie

Solusi ketiga, pembiasaan spiritual pada anak. Selain ritual belajar, pendidikan spiritual menjadi penting guna memetik hikmah yang tersembunyi terutama di masa pandemi ini. Anak-anak diajak untuk memiliki kesadaran bahwa ada sumber energi yang lebih besar dari yang diupayakan oleh manusia. Cobaan wabah Covid-19 adalah takdir dari Allah untuk kita, yang harus ikhlas dijalani. Pemahaman bahwa kehidupan ini selalu berhubungan satu dengan yang lain, bahkan dengan virus sekalipun. Sehingga, anak-anak akan lebih menghargai manusia, alam, dan dunia ini. Rasa empati dengan sendirinya akan muncul untuk saling memberi dan peduli.

Solusi keempat, kemudahan akses teknologi bagi anak dengan menyediakan Wi-Fi di masing-masing unit desa. Hal ini tentu saja menjadi faktor penting untuk mendukung kebebasan belajar. Apalagi dalam kondisi pembelajaran jarak jauh seperti saat ini, kualitas sumber belajar anak sangatlah penting. Aparat desa harus mendukung penuh dengan menjadikan program ini sebagai salah satu daftar wajib anggaran dana desa.

Kemerdekaan dalam belajar berarti juga harus memerdekakan semua elemen di ruang lingkupnya. Esensi “Merdeka Belajar” yang diluncurkan Mendikbud adalah memberi kemerdekaan yang seluas-luasnya dibarengi akselerasi yang tepat. Merdeka belajar artinya Indonesia harus berani berubah dan tegas berada pada satu jalur menuju pendidikan yang optimal dan bahagia. Kita bersama-sama harus mengumpulkan keberanian untuk lepas dari kegiatan belajar yang selama ini menganut paham konvensional, konservatif, birokratis, dan resisten terhadap perubahan. Berani?

Harus! Salam Merdeka Belajar.

Penulis : I’anatur Rofi’ah, S.Pd, Guru Matematika MTs Abu Darrin, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Mengoptimalkan Fungsi Tarbiyah Masjid
Pancasila dan Kekuasaan Kehakiman
Renegosiasi Pengelolaan PI : Ikhtiar Daerah Berkelit Dari Kutukan Sumber Daya Alam
PDI Perjuangan Bojonegoro : Soliditas Tiga Pilar Partai, Wabup Bojonegoro Masih Lemah
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Menjaga Kewarasan Ditengah Pandemi Covid-19
Pendidikan Karakter di Masa Covid 19
Refleksi Pergerakan, Manuver PMII 60 tahun Mengudara

Berita Terkait

Sabtu, 4 November 2023 - 08:37

Cak Imin Klaim Dapat Dukungan Habib di Solo: Mereka Soroti Pendidikan

Kamis, 10 Februari 2022 - 08:45

Komunitas Petani Muda Bojonegoro Deklarasi Gus Muhaimin Jadi Presiden 2024

Berita Terbaru

Beberapa varietas yang disukai adalah Inpari 32. Para petani menyukai varietas ini karena dinilai memiliki beberapa keunggulan.

Pertanian

Jelang Musim Tanam, Petani Lebih Suka Benih Inpari 32

Minggu, 5 Nov 2023 - 05:06