oleh

Konsep Bank Data Darah di Bojonegoro Dimatangkan

BOJONEGORO – Gagasan membentuk bank data darah di Bojonegoro mendapat respon positif dari Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur. Kini, PMI Bojonegoro mematangkan data untuk merealisasikan rujukan bank data darah.

Pasca pelantikan dewan kehormatan dan pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Bojonegoro beberapa waktu lalu, Bupati Bojonegoro Anna Muawanah, akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengembangkan PMI.

Gagasan besarnya membentuk adanya bank data darah yang dimungkinkan menjadi rujukan Jawa Timur maupun secara Nasional. Hal ini terus diupayakan.

Ketua Bidang (Kabid) Pelayanan Kesehatan dan Sosial PMI Jawa Timur, Harsono menyampaikan ketertarikan Ketua PMI Jawa Timur, Imam Utomo, dengan gagasan inovasi Bupati Bojonegoro tentang transfusi darah.

“Bagaimana rencana besar ini terealisasi,” katanya saat kunjungan di Bojonegoro beberapa waktu lalu.

“Sehingga, bisa mencukupi stok darah dan mendistribusikan, karena kebutuhan nasional kurang dan seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur mengalami kekurangan akibat pandemi,” tambahnya.

Kebutuhan darah plasma aparesis konfalesen dan pemberian reagent dari Kemenkes RI tidak lagi ada pendistribusian. Apalagi UDD PMI Bojonegoro juga melakukan persiapan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan termasuk bagaimana pembinaan relawan.

“Bahkan di Jember misalnya ada relawan media PMI, ke depan di Bojonegoro bisa dibentuk,” harap Harsono mantan Direktur RSUD dr. Soetomo Surabaya itu.

Ketua PMI Kabupaten Bojonegoro, Ahmad Hernowo mengaku sudah mematangkan rencana besar untuk mewujudkan gagasan Bupati Bojonegoro. Mulai data pendonor, persebaran, jumlah darah dan yang lainnya.

“Agar PMI Bojonegoro lebih berkembang dengan adanya dukungan ibu Bupati, sehingga segala upaya akan dilakukan,” ucap Hernowo.

Sosialisasi kepada masyarakat terus dilakukan seperti halnya agar satu ibu hamil disiapkan dua pendonor atau suami siaga. “Sekaligus biaya pengambilan darah sesuai perincian dan sesuai SK Gubernur Jawa Timur,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Bojonegoro Anna Muawanah meminta pendonor ditingkat menjadi 10 persen dari jumlah penduduk di Bojonegoro. Hal ini diyakini dapat terealisasi dengan pemetaan yang matang dan sosialisasi terukur dan terarah.

Jika tercapai, lanjut Bu Anna, jangan takut dalam pendistribusiannya karena bisa menggunakan teknologi penyimpanan darah dan memenuhi kekurangan stok darah di daerah lain.

Banyak hal yang bisa disisir untuk donorkan darah, baik masyarakat ditingkat desa maupun penerima manfaat program pemerintah.

“Sebab dimungkinkan masyarakat ditingkat bawah dan perangkat desa mau donor darah, tapi belum tahu caranya. Sehingga sosialisasi harus masif dilakukan,” ujar Bupati perempuan pertama di Bojonegoro ini.

Big data Pemkab Bojonegoro juga sudah siap dan bagaimana kartu KPM plus bisa terintegrasi dengan donor darah PMI Bojonegoro.

Bahkan nanti adanya CSR (Coorporite Social Responsibility) perusahaan diarahkan ke PMI dan Dinkes Bojonegoro untuk menganggarkan kebutuhan PMI.

“Konsep ini harus dimatangkan dan tidak boleh gagal, serta tugas harus dilaksanakan sebaik mungkin,” pesan Bupati. (muh/mil)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *