oleh

Pemerintah Desa Campurejo Pertanyakan CSR Pertamina EP Aset 4 Sukowati Field

bojonegorotoday.com – Kepala Desa Campurejo, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mempertanyakan pengelolaan CSR (Corporate Social Responsibility) Pertamina EP Aset 4 yang dianggap kurang optimal.

Beberapa hal yang dianggap kurang optimal itu diantaranya ada program CSR Pertamina EP Aset 4 dibidang kesehatan dinilai tumpang tindih dengan program pemerintah. Sebab pengobatan gratis sudah dikafer pemerintah.

Kepala Desa Campurejo, Edi Sampurno mengungkapkan, selain itu anggaran CSR Pertamina EP Aset 4 Sukowati Field hanya Rp 1,5 Miliar per tahunnya. Itupun dibagi dengan tiga desa wilayah di Kabupaten Tuban.

“Bagi kami anggaran itu kurang maksimal,” katanya saat Raker Komisi C DPRD dengan agenda mediasi antara Pemdes Campurejo, dengan Blok Sukowati PAD A tentang Realisasi Program CSR kemarin.

Pihaknya juga mempertanyakan keterlibatan wanganya (warga lokal) sebagai tanaga kerja di perusahaan Migas itu. Ia menilai, sedikit sekali warga lokal yang terlibat. Parahnya, komposisi untuk tenaga kerja lokal tidak jelas.

“Ini menjadi lucu, ketika komposisi tenaga kerja lokal tidak jelas,” ungkapnya.

Kemudian, rekanan yang menjalankan program CSR juga dinilai seenaknya sendiri dalam membuat kegiatan. “Awalnya komunukasi memang bagus, tapi setelah itu tidak komunikasi lagi ke kami,” ujarnya.

Pihaknya, berharap Pertamina EP Aset 4 mengevaluasi besaran dan pelaksanaan program CSR. Sehingga ada sinkronisasi antara Pemerintah Desa dengan Perusahaan Migas dalam menjalankan program-program CSR.

“Kalau tidak ada komunikasi baik, mana mungkin ada sinkronisasi,” bebernya.

Sementara itu, PJS Legal And Relation, Pertamina EP Aset 4, Andreas mengatakan, program-program CRS yang dibuat Pertamina EP Aset 4 diajukan dan meminta persetujuan ke Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas.

Program CSR sudah berjalan dan terealisasi sejak tahun 2018 hingga 2019, di bidang ekonomi, peningkatan infrastruktur dan lain sebagainya. Sementara, di tahun 2020 pelaksanaan CSR lanjutan sedang berjalan.

“Program CSR kami jalankan dengan sebaik-baiknya. Apa yang menjadi kebutuhan di Desa Campurejo atau desa-desa lain yang masuk dalam ring satu, semaksimal mungkin kami bantu,” ucapnya.

Terkait pembebasan lahan, pihaknya mengungkapkan masih dalam proses. Pada bulan Maret 2020 lalu, pihaknya mendapatkan surat dari Pemprov Jawa Timur selaku yang akan melakukan pembebasan lahan.

“Hal itu berdasarkan undang-undang, karena lahannya lebih dari 5 hektar. Tim dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur belum bisa turun ke Desa Campurejo karena masih Pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Namun, setelah dirapatkan dengan Pemerintah Provinsi dengan SKK Migas pada Juni 2020, pembebasan lahan tetap dilanjutkan. Saat ini, masih dalam tahap penetapan lokasi, yang nantinya akan disampaikan oleh Pemprov.

Andreas menambahkan, terkait komposisi tenagakerja pihanya belum memiliki kewenangan dan tidak memiliki data yang falid terkait jumlah tenaga kerja yang pasti. Proses rekrutmen tenaga kerja dari pusat.

“Namun demikian, jika ada kegiatan-kegiatan lain tetap kami kordinasikan dengan pemerintah desa terkait tenaga kerja lokal,” ucapnya.

Kemudian, lanjutnya, metode CSR bukan berdasarkan persentase melainkan metode Social Maping atau apa yang dibutuhkan olah masyarakat di lokasi sekitar. Hal ini yang men yang menjadi dasar kegiatan dalam CSR.

“Kemudian kami kordinasikan dengan pemerintah desa, dan kami prioritaskan desa di ring satu,” kata Andreas.

Produksi Migas Pertamina EP Aset 4 Sukowati Field sekitar 9.000 barel per hari. Lalu, besaran CSR Rp 1,5 Miliar diperuntukan tiga desa (Campurejo, Sambiroto dan Ngampel) di Kabupaten Bojonegoro.

“Dan tiga desa (Bulurejo, Rahayu serta Kebonagung) di Kabupaten Tuban,” pungkas Andreas. (mil/yud)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *