oleh

Ramadhan Berkah, Bazar CEC Ajak Milenial Berkreasi Tanpa Batas

BOJONEGORO – Berjejer empat perempuan di tenda bazar yang dinaungi Creative Economi Centre (CEC) di Jalan MH Thamrin, Sabtu (17/04/2021). Sebuah komunitas yang bergerak di bidang wirausaha.

Mereka bisa disebut wujud kartini masa kini. Perempuan mandiri yang berwirausaha tanpa pantang menyerah. Mereka berempat pun juga memiliki produk sendiri-sendiri.

Keempatnya adalah pengurus CEC. Diketuai Adib Nurdiyanto, penggagas yang telah berkecimpung di wirausaha dan memiliki banyak produk merek sendiri. Anggota CEC kini berjumlah 156 terdiri dari berbagai lapisan masyarakat.

Adib, sapaan akrabnya mengatakan, ada tiga kategori anggota di dalamnya. Dari pelajar, mahasiswa, hingga akademisi tergabung di komunitas mereka.

Bazar ini buka mulai pukul 15.00 Wib hingga menjelang buka puasa selama bulan Ramadan.

Berbagai aneka kuliner tersusun rapi di meja. Dengan banner nama komunitas mereka tersemat di depan meja. Harganya beragam mulai dari Rp 6.000 dan tergantung jenis makanan yang dijual.

Ada sembako, lauk-pauk, makanan ringan, jajanan pasar, hingga minuman kekinian yang sangat cocok dinikmati saat berbuka.

Adib menceritakan, CEC memiliki lima outlet. Tiga di kota yakni di Jalan Veteran, Jalan MH Thamrin, Jalan Cokro Aminoto.

“Dua outlet lainnya di Desa Wedi dan Gondang. Sementara di Jalan MH Thamrin inilah tempat yang paling cocok untuk dibuka bazar,” katanya.

“Selain tempat yang strategis, salah satu anggota juga tempatnya di sini. Selain itu, di MH Thamrin juga ramai warga berlalu-lalang,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris CEC Anis Yulianti menambahkan, bazar ini didirikan bertujuan menggerakkan ekonomi warga dan menjembatani para pelaku usaha yang tidak memiliki wadah.

Mulai dari usaha kerajinan, kuliner, hingga jasa seperti modeling.n”Kami mengajarkan pemuda-pemudi untuk berkreasi tanpa batas,” kata Anis.

Apalagi, lanjut perempun ramah ini, bulan Ramadan adalah kesempatan emas bagi para pelaku usaha untuk menjajakan produknya. Hingga terbersitlah ide bazar yang dimulai sejak 13 April lalu.

Semakin sore, bazar bertenda merah itu banyak kedatangan pembeli. Bahkan, kata Anis, sampai waktunya tutup pun pembeli masih menanyakan dagangan mereka.

Salah satu konsumen Ngardi asal Kecamatan Trucuk bahkan rela ngabuburit di Kota Bojonegoro. Mereka menyebrangi Jembatan Sosrodilogo, jembatan yang menghubungkan Kecamatan Trucuk dan Kecamatan Bojonegoro.

Bersama istri dan seorang anaknya, mereka membeli botok, makanan khas jawa yang terbuat dari kelapa dan membeli beberapa camilan lainnya.

“Ke sini sekalian beli lauk dan jalan-jalan jelang buka puasa,” katanya. (bid/mil)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *