oleh

Paguyuban MPSI Prihatin Adanya Wacana Kenaikan Cukai

bojonegorotoday.comPaguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia prihatin dengan kabar di media massa bahwa Kementerian Keuangan akan menaikkan tarif cukai rokok sebesar 17-19 persen. Jika benar, akan menjadi kabar duka bagi ibu-ibu pelinting sigaret kretek tangan yang tersebar di 27 kota/kabupaten di Pulau Jawa.

Paguyuban MPSI berharap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Presiden Joko Widodo untuk mempertimbangkan rencana kenaikan tersebut. Kenaikan tinggi di masa pandemi Covid-19 ini akan memberikan dampak negatif bagi penghidupan puluhan ribu pelinting SKT yang mayoritas adalah tulang punggung keluarga.

Dampak negatif tersebut, misalnya ibu-ibu pelinting SKT, yang mayoritas berpendidikan SD-SMP, akan terancam kehilangan pekerjaan lantaran permintaan pasar terhadap produk SKT yang menurun seiring kenaikan cukai yang tinggi ditambah dengan berkurangnya daya saing terhadap rokok yang diproduksi mesin.

“Jika terjadi PHK, bagaimana dengan nasib mereka. Siapa yang akan mempekerjakan mereka kembali. Siapa yang akan menyekolahkan anak-anak mereka. Sangat mengekhawatirkan,” kata Sriyadi Purnomo selaku Direktur Koperasi Kareb MPS Kapas dan Ketua Paguyupan MPS Indonesia.

Kemudian, perekonomian di sekitar lokasi produksi SKT, seperti warung, pedagang kaki lima, toko kelontong, transportasi dan kost akan turut terdampak. Padahal, penghidupan pemilik warung, toko kelontong, dan transportasi sangat bergantung pada buruh SKT yang bekerja di daerah tersebut. Perekonomian lokal akan lesu.

Karena itu, Paguyuban MPSI memohon perlindungan kepada Bu Sri Mulyani dan Pak Jokowi untuk tidak menaikan tarif cukai rokok kretek tangan sehingga para buruh linting tetap dapat bekerja dan memberikan nafkah bagi keluarga, serta menggerakkan roda perekonomian lokal di 27 kota/kabupaten di Indonesia.

Menjauhkan selisih, tarif cukai rokok kretek tangan dengan rokok mesin sehingga produk kretek tangan tetap kompetitif, dan melindungi tenaga kerja kretek tangan. Kretek tangan merupakan segmen padat karya di mana 1 hanya pelinting mampu memproduksi 7 batang per menit, sementara 1 mesin dapat menghasilkan 16.000 batang per menit. (moh/yud)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *