Wisata Alam Kayangan Api di Bojonegoro menawarkan fenomena alam yang sangat langka berupa api abadi yang terus menyala dari dalam tanah selama ratusan tahun. Terletak di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, destinasi geopark ini memadukan keajaiban geologi dengan nilai sejarah dan budaya yang mendalam bagi masyarakat setempat.
Api yang tidak pernah padam ini terjadi karena gas metana alami yang keluar dari perut bumi dan terbakar saat bersentuhan dengan oksigen di permukaan. Fenomena geologis ini telah menjadikan Kayangan Api sebagai salah satu objek wisata unggulan Bojonegoro yang menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah.
Kawasan wisata ini tidak hanya menyajikan keunikan api abadi, tetapi juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung dan berbagai aktivitas menarik di tengah suasana hutan yang masih asri. Pengunjung dapat memahami sejarah tempat yang konon menjadi lokasi pertapaan Empu Supa dari era Majapahit sambil menikmati pesona alam yang memukau.
Gambaran Singkat Wisata Alam Kayangan Api

Kayangan Api merupakan destinasi wisata alam unik di Bojonegoro yang memiliki fenomena api abadi yang tidak pernah padam selama berabad-abad. Lokasi ini terletak di tengah hutan lindung dan menawarkan akses yang relatif mudah dijangkau dari pusat kota.
Fenomena Api Abadi dan Keunikan Geologi
Kayangan Api terkenal karena fenomena api abadi yang menyala terus-menerus tanpa pernah padam meski terkena hujan. Api ini berasal dari gas alam yang keluar dari perut bumi melalui zona lemah atau rekahan di permukaan tanah.
Gas metana yang merupakan komponen utama gas alam merembes melalui celah-celah batuan. Ketika gas ini bersentuhan dengan oksigen di udara, terjadi pembakaran secara alami yang menciptakan api abadi.
Keunikan geologis Kayangan Api:
- Kandungan sulfur tinggi yang memberikan warna biru pada nyala api di malam hari
- Mata air dengan bau menyengat karena mengandung belerang
- Kawah semburan gas yang keluar dari dalam bumi
- Suhu udara tetap sejuk meski api berkobar
Fenomena ini berlangsung secara terus-menerus selama ratusan bahkan ribuan tahun. Api dari Kayangan Api pernah digunakan untuk menyulut obor Pekan Olahraga Nasional dan ASEAN Para Games.
Lokasi dan Akses Menuju Wisata Alam Kayangan Api
Kayangan Api berlokasi di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Koordinat lokasi berada pada 7°11’30.0″S 111°55’30.0″E dengan ketinggian sekitar 350 meter di atas permukaan laut.
Rute perjalanan dari Surabaya:
- Naik bus dari Terminal Purabaya menuju Bojonegoro (120 km, 3-4 jam)
- Dari Terminal Bojonegoro naik angkot kuning jurusan Ngasem
- Jarak dari Bojonegoro ke lokasi sekitar 16 km (30-45 menit)
Kawasan wisata ini berada di tengah hutan jati yang rimbun dengan luas area cagar alam sekitar 3 hektar. Pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum untuk datang ke lokasi.
Akses jalan menuju lokasi sudah cukup baik dengan fasilitas jalan penghubung yang memadai. Kondisi terbaik untuk berkunjung adalah saat musim kemarau (April-Oktober) karena jalan tidak licin dan berlumpur.
Jam Buka dan Informasi Tiket
Kayangan Api buka setiap hari untuk pengunjung umum. Waktu operasional situs idr89 dimulai dari pagi hingga sore hari, namun pengunjung dapat menikmati pemandangan api biru yang spektakuler saat malam hari.
Pengelola menyediakan berbagai fasilitas pendukung seperti pendopo, area jajanan, dan fasilitas lainnya. Lokasi ini dilengkapi dengan jalur pedestrian yang aman untuk pengunjung.
Fasilitas yang tersedia:
- Pendopo untuk beristirahat
- Warung makanan dan minuman
- Area parkir kendaraan
- Jalur pedestrian menuju lokasi api
Sebagai kawasan cagar alam, jumlah pengunjung dibatasi untuk menjaga kelestarian lingkungan. Pengunjung diwajibkan menjaga kebersihan dan tidak merusak fasilitas atau lingkungan sekitar.
Harga tiket masuk relatif terjangkau dan sesuai dengan standar objek wisata daerah. Informasi lengkap mengenai tarif dapat diperoleh langsung dari pengelola setempat.
Sejarah dan Legenda Wisata Alam Kayangan Api

Kayangan Api memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak era Kerajaan Majapahit dan diperkaya dengan legenda Empu Supa yang menggunakan api abadi ini untuk menempa pusaka kerajaan. Tempat ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan tradisi spiritual yang terus dilestarikan masyarakat setempat.
Asal Usul dan Peran Zaman Majapahit
Api abadi Kayangan Api telah berpijar sejak zaman Kerajaan Majapahit. Catatan sejarah menunjukkan bahwa tempat ini menjadi lokasi suci bagi masyarakat pada masa kejayaan kerajaan tersebut.
Lokasi ini berfungsi sebagai pusat penempaan pusaka dan senjata kerajaan. Para empu atau pandai besi memanfaatkan api abadi yang tidak pernah padam untuk menciptakan keris dan senjata pusaka berkualitas tinggi.
Keunikan geologis Kayangan Api berupa gas alam yang tersulut menciptakan sumber api permanen. Kondisi ini menjadikan tempat tersebut strategis untuk kegiatan metalurgi pada masa itu.
Status sebagai tempat suci terus berlanjut hingga kini. Masyarakat setempat masih menghormati nilai sejarah dan spiritual yang melekat pada lokasi ini.
Legenda Mbah Kriyo Kusumo dan Ritual Adat
Legenda setempat menceritakan sosok Empu Supa atau Mbah Kriyo Kusumo, seorang pandai besi sakti pada masa Majapahit. Ia dikenal sebagai empu terkenal yang menggunakan api abadi Kayangan Api untuk menempa keris pusaka.
Cerita turun-temurun menyebutkan bahwa Mbah Kriyo Kusumo memilih lokasi ini karena api yang tidak pernah padam. Kualitas api alami ini dipercaya memberikan kekuatan mistis pada pusaka yang dihasilkan.
Ritual adat masih dilakukan masyarakat setempat untuk menghormati warisan leluhur. Upacara-upacara tradisional diadakan secara berkala sebagai bentuk pelestarian budaya dan sejarah.
Tradisi ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkaya pengalaman pengunjung. Kombinasi fenomena alam dan nilai sejarah menjadikan Kayangan Api destinasi unik yang menggabungkan edukasi geologi dan budaya.
Baca Juga : Wisata Alam Sendang Grogolan
Daya Tarik dan Aktivitas Wisata Alam Kayangan Api
Kayangan Api menawarkan tiga pengalaman utama yang memukau pengunjung dengan fenomena api abadi yang menyala tanpa henti, lokasi-lokasi bersejarah dengan nilai spiritual tinggi, dan tradisi budaya yang masih terpelihara hingga kini.
Melihat Langsung Wisata Alam Kayangan Api
Api abadi menjadi daya tarik utama yang membedakan Kayangan Api dari destinasi wisata lainnya. Fenomena alam ini terjadi karena gas metana yang keluar dari celah-celah batuan dan terbakar saat bersentuhan dengan oksigen.
Waktu Terbaik untuk Berkunjung:
- Pagi hari (06.00-09.00): Api terlihat jelas dengan latar belakang hutan yang sejuk
- Sore menjelang petang (16.00-18.00): Pemandangan paling spektakuler saat matahari mulai tenggelam
- Malam hari: Api berwarna biru akibat kandungan sulfur yang tinggi
Pengunjung dapat berdiri pada jarak aman sekitar 2-3 meter dari sumber api. Suhu di sekitar area tetap sejuk meskipun api menyala terus-menerus.
Gas alam yang memicu api ini mengandung metana dengan konsentrasi tinggi. Proses pembakaran berlangsung secara alami selama ratusan tahun tanpa pernah padam, bahkan saat musim hujan.
Tips Pengamatan:
- Bawa kamera dengan setting low light untuk foto malam hari
- Kenakan alas kaki yang nyaman untuk berjalan di area berbatu
- Hindari menyentuh atau melempar benda ke area api
Spot Unik: Sumur Blukuthuk dan Pohon Cinta
Sumur Blukuthuk terletak sekitar 50 meter dari area api utama. Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 3 meter dengan air yang jernih dan dingin. Masyarakat setempat percaya air dari sumur ini memiliki khasiat penyembuhan.
Struktur sumur terbuat dari batu alam yang disusun secara tradisional. Air yang keluar dari sumur ini berasal dari mata air bawah tanah yang tidak terpengaruh aktivitas geothermal di sekitarnya.
Pohon Cinta merupakan pohon jati tua berusia ratusan tahun yang tumbuh di dekat area parkir. Batangnya yang besar dan rindang menjadi tempat favorit pengunjung untuk berfoto.
Keunikan Pohon Cinta:
- Diameter batang mencapai 2 meter
- Tinggi sekitar 15 meter
- Dipercaya sebagai tempat berdoa untuk jodoh dan keharmonisan rumah tangga
Kedua lokasi ini menjadi pelengkap pengalaman wisata yang menawarkan aspek spiritual dan budaya lokal. Pengunjung sering melakukan ritual sederhana seperti berdoa atau meditasi di bawah pohon tersebut.
Acara Budaya dan Tradisi Lokal
Upacara Labuhan Suran diadakan setiap tahun pada bulan Suro dalam kalender Jawa. Acara ini melibatkan seluruh masyarakat Desa Sendangharjo dan sekitarnya untuk memohon keberkahan dan keselamatan.
Prosesi dimulai dengan doa bersama di area api abadi, dilanjutkan dengan penyajian sesajen berupa hasil bumi. Masyarakat percaya tradisi ini menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Rangkaian Acara Labuhan Suran:
- Pembukaan dengan doa dan pembacaan sejarah Kayangan Api
- Penyajian sesajen berupa buah-buahan, bunga, dan makanan tradisional
- Pertunjukan kesenian tradisional seperti kuda lumping dan wayang kulit
- Penutupan dengan doa bersama untuk keselamatan desa
Api dari Kayangan Api pernah digunakan untuk menyulut obor PON XV Jawa Timur dan ASEAN Para Games VI. Hal ini menunjukkan pengakuan terhadap nilai budaya dan sejarah tempat wisata ini.
Pengunjung yang datang saat periode upacara dapat menyaksikan langsung tradisi yang telah berlangsung berabad-abad. Masyarakat lokal biasanya menyambut wisatawan dengan ramah dan menjelaskan makna dari setiap ritual yang dilakukan.